Tribute Blog...Peduli Kemiskinan

↑ Grab this Headline Animator

02 August 2008

Excuse me Sir, there's no Legislative Class...

Suatu hari saya akan melakukan perjalanan dengan menggunakan angkutan bus. Seperti biasa, untuk kenyamanan perjalanan, saya akan memilih bus kelas eksekutif. Ketika menunggu keberangkatan, perhatian saya tertuju kepada seorang Bapak paroh baya. Sepintas sepertinya berasal dari golongan atas. Tapi dari cara berpakaiannya, setelan kemeja dan dasi, dipadu dengan jaket, saya menduga-duga bapak ini publik figur di daerah. Tapi saya tidak tertarik dengan penampilannya yang norak itu, tetapi lebih menarik perhatian karena mondar mandir dari satu kaunter ke kaunter yang lain. Sudah semua kaunter bus dimasukinya. Mungkin karena sudah capek, dengan wajah kesal, beliau duduk di sebelah saya. Dengan gaya khasnya belia lalu bertanya, "tidak adakah bus yang lebih mewah di terminal sebesar ini?". Saya lalu menunjukkan tiket bus yang sudah saya pesan dan mengatakan bahwa ini adalah tiket bus termahal kelas eksekutif. Tapi dengan enteng si Bapak mengatakan ingin kelas yang lebih tinggi lagi, yaitu bus kelas legislatif. Ketika saya selidiki lebih jauh ternyata si Bapak adalah seorang petani dari sebuah desa, yang sangat mengidolakan dan terobsesi dengan gaya hidup wakil rakyat (nya) saat ini.

Gaya dan perilaku sebahagian wakil rakyat memang tidak lagi merepresentasikan kehidupan rakyat (miskin) yang diwakilinya. Banyak wakil rakyat kelihatan glamour, selebritis, high class, suka barang-barang branded, trendy dan suka pesiar ke luar negeri. Begitu juga halnya dengan wakil-wakil rakyat di daerah, meskipun kelihatan masih norak, tapi cara berpakaiannya sudah lebih eksklusif. Kemana-mana berpakaian rapi (kemeja dipadu dasi yang mudah dipakai kerana ada ikatan di belakang). Meskipun kadang-kadang tidak bisa menyelaraskan antara warna/motif baju dan dasinya, serta kapan dasi cocok dipakai, tapi kelihatan jauh lebih mentereng dari rakyatnya. Kita tentu tidak berharap rakyat meniru gaya wakilnya itu. Tapi seperti pengalaman yang saya alami di atas, kita takut rakyat memang sedang mengidolakan wakil-wakilnya itu sehingga segala gayanya patut ditiru, bahkan mulai terbiasa mencari fasilitas kelas legislatif.

Hotel-hotel berbintang, restoran-restoran mewah, dan tempat huburan eksekutif (bukan legislatif) acap menjadi tempat pertemuan sebahagian wakil rakyat. Fakta ini setidaknya terungkap dari beberapa kasus yang melibatkan wakil rakyat yang perlahan mulai terungkap. Lihat saja, betapa bangganya petani itu dengan gaya legislatif yang mungkin selalu disaksikannya, atau didengarnya. Agaknya memang perlu segera disikapi permintaan pak tani itu. Jadi jangan hanya fasilitas kelas eksekutif saja yang disediakan. Agaknya memang sudah perlu disediakan fasilitas kelas legislatif. Sehingga hotel-hotel, restoran, lounge, penerbangan, bus, perbankan tidak hanya menyediakan fasilitas kelas eksekutif, tetapi membuat kelas yang lebih tinggi lagi (meminjam istilah petani itu) yaitu kelas legislatif. Siapa tahu orang-orang seperti petani itu memerlukannya.

Sama seperti pembunuhan berantai, satu persatu segala kebusukan perilaku oknum wakil rakyat, mulai terungkap. Tapi anehnya, rakyat tidak begitu peduli dan tidak tercengang karena kasus suap dan perzinahan yang terungkap itu. Tidak ada protes, tidak ada demonstrasi, tidak ada tindakan brutal, seperti yang biasa dilakukan oleh beberapa kelompok massa, jika melihat sebuah indikasi penyimpangan norma. Apakah karena rakyat sangat hormat dan memuliakan para wakil yang telah mereka pilih sendiri, sehingga segala perbuatan, dalam bentuk apapun, patut dan harus di lindungi, atau mungkinkah karena rakyat sudah lebih dahulu mengetahui segala kebusukan itu jauh-jauh hari sebelum aparat penegak hukum mengungkapnya.

Memang masih banyak wakil rakyat yang masih memiliki nurani dan kepedulian kepada rakyatnya. Mereka ini layak kita pertimbangkan untuk dipilh menjadi wakil rakyat pada Pemili 2009. Tapi, bagi mereka yang sudah terbukti tidak peduli dengan rakyatnya, apalagi melakukan perbuatan tercela sebagai politisi busuk, tentu tidak perlu pertimbangan lagi untuk membuangnya jauh-jauh. Masih banyak orang Indonesia yang jauh lebih baik, lebih peduli kepada nasib kaum miskin.

Baca selengkapnya......

15 June 2008

Lumpur Similiar, Cyber Spiritual


Saya banyak menerima e-mail dan membaca resensi yang mengomentari novel saya berjudul “Lumpur Similar”. Sebahagian besar menilai cerita dalam novel tersebut terjebak pada hal-hal yang tidak logis dan tidak masuk akal. Peristiwa dan kejadian-kejadian yang seharusnya sangat penting, tapi justeru terjadi dengan sangat gampangnya, datar, dan kurang mampu memainkan emosi pembaca. Tokoh utamanya terlalu sempurna, terkenal, kaya, pintar dan dari kalangan atas. Sebahagian lagi justeru bertanya, apakah negeri bernama Lumpur itu benar-benar ada, dimana persis lokasinya, bahkan yang lebih lucu lagi, meminta informasi bagaimana bisa mencapai negeri itu. Hanya sayang, ketika berkunjung ke salah satu blog, saya menemukan ada orang yang ingin membuat resensi dengan meminjam resensi yang sudah ada pada blog itu?????

Sebagai rasa hormat saya kepada orang-orang yang telah mengapresiasi, membaca, dan memberi penilaian terhadap apa yang telah saya ceritakan, pada kesempatan ini saya menulis untuk mereka. Novel Lumpur Similar adalah murni fiktif, baik waktu, tempat, peristiwa maupun pelakunya. Saya memulai menulis dengan niat untuk menyuguhkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang ringan, datar, tidak dramatik, semua kejadian terjadi begitu cepat, dinamis dan kadang-kadang melompat dari satu kejadian ke kejadian lain. Sebuah peristiwa yang semestinya sangat penting dan dramatik, tiba-tiba saja saya tinggalkan, seolah-olah tidak tuntas, lalu pindah ke kejadian lain. Semua itu sengaja saya buat agar ada ruang kosong yang dapat dimanfaatkan oleh pembaca untuk mengembangkan detail cerita itu menurut yang mereka inginkan. Hasilnya?, itulah beragam reaksi itu.

Sesungguhnya, Lumpur Similar adalah pertemuan dua kutub. Antara orang kaya dengan orang miskin, orang kota dengan orang pedalaman, modern dengan primitif, nyata dan gaib, kebaikan dengan kejahatan, kerendahan hati dengan kesombongan, hitam dengan putih. Lumpur Similar bukan cerita tentang reli Sabang-Merouke, bukan cerita etnik, atau budaya, horor, mistis, religi, gaib atau cinta. Lumpur Similiar hanyalah sebuah manipestasi dari realita dunia yang mungkin belum atau jarang diungkapkan. Saya menyebutnya sebagai sebuah sensasi baru novel Indonesia dengan setting futuristik. Saya hanya ingin menyatukan kedua kutub itu sebagai salah satu syarat tercapainya kedamaian di dunia ini. Karena, selama masih ada polarisasi antara keduanya, jangan harap dunia ini akan damai.

Adakah sesuatu yang tidak logis, atau bahkan tidak masuk akal dalam cerita ini? Menurut saya tentu saja tidak ada. Tidak logis atau tidak masuk akal hanyalah sesuatu yang timbul karena keterbatasan logika dan akal itu sendiri sebagai instrumen pengukurnya. Semakin banyak hal-hal yang kita anggap tidak logis dan masuk akal berarti semakin jauh kita dari fitrah penciptaan manusia. Rasakanlah, betapa dinamisnya dunia ini, kalau kita tidak mengikutinya, maka setiap detik kita akan selalu dibuat tercengang. Sesuatu yang dulu dianggap tidak mungkin, kemudian justeru menjadi mungkin, bahkan sekarang malah menjadi biasa-biasa saja. Jadi, betapa lemahnya kita ini. Oleh sebab itu, dalam membuat ide cerita yang futuristik, saya berusaha untuk melupakan apa itu ketidaklogisan atau tidak masuk akal. Bagi saya, hanya satu yang tidak mungkin dalam ide cerita, yaitu menghidupkan yang sudah mati. Karena itu murni urusan Allah.

Lantas, bagaimana dengan tokoh yang serba sangat sempurna itu? Oh, di dunia ini segala-galanya ada. Mulai dari yang sangat sempurna sampai kepada yang sangat tidak sempurna, semua itu ciptaan Sang Maha Pencipta. Kita bisa mengenal yang sangat sempurna maupun yang tidak sempurna. Tinggal kita mau bergaul dengan kalangan mana

Akhirnya, tidak ada gading yang tak retak. Pun Lumpur Similar seperti gading itu. Semua tanggapan, komentar dan resensi dalam bentuk apapun adalah rangkaian kalimat-kalimat yang akan menjadi rapor, buku prestasi, dan begitu berharga bagi saya. Saya sangat merindukannya, dan saya sangat berterima kasih kepada sahabat-sahabat semua.
(ALFmalik@gmail.com)

Baca selengkapnya......

10 June 2008

Low cost, high quality

Ketua Umum PGRI Mohammad Surya, sebagaimana dikutip dari salah satu media massa, menyatakan ketidaksetujuannya dengan istilah pendidikan gratis. Anggota DPD RI ini juga mengatakan bahwa adagium itu acapkali dijadikan alat kampanye oleh sebahagian calon kepala daerah dalam ajang Pilkada. “Di dalam pendidikan tidak terjadi transaksi jual beli, tetapi tranfer of knowledge atau transfer of skill, juga transfer of value. Karenanya, istilah pendidikan gratis hanya menyesatkan masyarakat. Kata “gratis” itu bukanlah bahasa pendidikan. Gratis, mahal, murah, itu bahasa dagang”, tegas Mohammad Surya dalam rapat pleno DPR RI. Ditambahkan lagi, karena tidak setuju dengan istilah itu, Surya berusaha meralat istilah yang kadung dipercayai masyarakat melalui janji-janji yang seringkali disampaikan calon kepala daerah saat berkampanye.
Masalah jargon “pendidikan gratis” ini sudah saya ungkapkan dalam buku “Menghapus jejak Kemiskinan, An Unconventional Approach, Kampar Way”, dan dalam beberapa posting yang relevan. Sebahagian besar masyarakat kita memang masih sangat menyukai segala sesuatu yang gratis, sehingga sangat mudah untuk dijadikan tema kampanye, baik oleh calon kepala daerah maupun calon anggota legislatif, atau bahkan mungkin oleh calon anggota DPD sendiri. Namun menurut hemat saya, istilah gratis yang diteriakkan oleh para petualang politik itu tidak perlu dipermasalahkan. Karena bukankah itu hanya sebatas janji? Lihat saja, janji itu selalu diikuti oleh kata-kata “……kalau saya terpilih, saya akan…..” Tapi, setelah terpilih, ternyata bukan masyarakat yang digratiskan, tetapi justeru merekalah yang menikmati berbagai layanan yang dibiayai pemerintah alias gratis itu.

Tapi saya lebih setuju lagi bila janji-janji itu tidak ditepati. Karena seandainya para petualang politik itu benar-benar menerapkan pendidikan gratis, maka dunia pendidikan kita akan semakin babak belur. Dengan pendidikan berbayar saja kondisi pendidikan di negara kita sangat memprihatinkan, apatah lagi gratis. Jadi, akan lebih bijaksana bila seluruh komponen masyarakat menuntut kepada pemerintah untuk menambah alokasi dana pendidikan yang lebih tinggi, sehingga masyarakat dapat menikmati pendidikan berbiaya rendah, berkualitas tinggi (low cost, high quality)

Dalam kondisi perekonomian masyarakat yang serba sulit, harga-harga kebutuhan pokok semakin mahal, membuat banyak diantara masyarakat yang tadinya hidup pas-pasan, kini hidup ngos-ngosan. Bagaimana kalau pemerintah mencanangkan program 1 (satu) hari dalam setiap minggu serba gratis untuk para ngos-ngosan itu?. Pada hari itu, semua kebutuhan dan keperluan masyarakat yang kurang mampu digratiskan, seperti makan gratis. Cukup satu hari saja dalam satu minggu. Jadi, mereka tinggal memikirkan bagaimana hidup untuk enam hari sisanya.

Mereka yang skeptis akan mengatakan, repot amat melayani masyarakat, bahkan menyiapkan makan gratis. Lebih baik dikasih uang saja seperti BLT. Kalau tidak mau repaot jangan jadi pelayan masyarakat. Ngurusin masyarakat, apalagi ngurusin orang miskin memang agak repot. Makanya jangan biarkan masyarakat menjadi semakin miskin. Kalau dalam kondisi sulit ini para pegawai negeri menerima gaji ke-13, dan ada ancang-ancang menaikkan (menyesuaikan) gaji akibat kenaikan harga bahan pokok, nah giliran orang miskin kapan diberi gaji ke-13 dan kapan akan dinaikkan gajinya? Jangan BLT melulu, karena BLT + BHT = BLL (Bantuan Langsung Tunai + Biaya Hidup Tinggi = Bantuan Langsung Ludes). Mau….?

Baca selengkapnya......

24 May 2008

Setelah 100 tahun Indonesia bangkit

Saya menerima e-mail dari seorang sahabat yang sekarang sedang berkutat dengan masalah pendidikan orang-orang tidak mampu. Sejatinya ia adalah seorang arkitek senior, yang salah satu karyanya kini sedang menjadi ikon dan kebanggan salah satu kabupaten di Indonesia. Beliau, Santi Mardjata, bermukin di Jakarta, dengan segala keterbatasannya sedang berusaha menggratiskan pendidikan (bermutu) bagi yatim, piatu, miskin dan terlupakan. Kita mesti bergabung dengan Santi Mardjata, peduli….?
Saya mengapresiasi perbuatan baik ini dan mencoba menyampaikan e-mail beliau melalui posting ini.

Assalamualaikum, pak Alf..

Mudah2an pak Alf dan keluarga baik2 saja..hmm ceritanya lagi di negeri jiran neh..?Bersama ini saya sampaikan foto kegiatan Bimbel yang sudah berlangsung 3 bulan.
Anak anak yang saya bimbing adalah anak anak dalam asuhan Aisyiah. Jadi ceritanya saya tergugah untuk membantu mereka dalam menambah pengetahuan math,bahasa indonesia, pengetahuan umum.., menggambar..tentu saja..
Mereka ada yang yatim, piatu, dan tidak mampu..

Dengan keterbatasan pendidikan orang tua mereka, maka terbatas pula lapangan pekerjaannya..terbatas pula pendapatan mereka..dan terbatas pula perhatian orangtua terhadap perkembangan pendidikan anaknya.
Yang penting sekolah..gratis pula..Benar memang..di DKI wajib belajar 9 tahun..,tapi yang namanya sekolah gratis ya gitu dehh..

Jangan bangga lulus UAN 1000%.. Boro2 tau 100 tahun kebangkitan nasional..lha wong tanggal kebangkitan nasional nya aja gak tau..tokoh2nya juga gak tau..
Mirisnya..ada yang gak bisa nyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya..(tapi setelah "diancam" deportasi ke Afrika Selatan..akhirnya sang murid bisa ..)
Sedih pak Alf..kalau kita tanya pengetahuan umum.. wah..
apa gak malu yaa mendikbud kalau tau..
Ya yang pertama harus malu ya kita kita juga ..yang merasa bersama kita bisa..hahaha..
Tapi senang melihat mereka mulai suka matematika... pakai contoh2 ngajarinnya..jadi mereka bisa ngerti..

Untuk anak2 yang SMP,SMU..ya saya cuma ngajar bahasa Inggris dan pengetahuan umum serta bahas topik2 yang lagi in..narkoba, global warming, korupsi, pergaulan bebas.
Nah kalau soal agama ada khusus yang membimbingnya.
Saya juga motivasi mereka untuk mandiri..,untuk terus mencapai cita2.. Buku Laskar Pelangi nya Andrea Hirata jadi bacaan wajib..(Kalau Lumpur Similiar..jangan dulu..ntar mereka jadi jalan pintas pengen jadi dukun lagii)
Begitulah kegiatan bimbel..yang cukup memicu saya untuk tetap belajar juga..belajar menyelami masyarakat..
ya.. orang orang miskin..juga berasal dari kemah Ibrahim..

Salam,

Baca selengkapnya......

08 May 2008

Bersama (miskin selama 63 tahun) kita bisa

Belakangan ini banyak media massa menyorot dan memberitakan jeritan orang miskin. Mengapa nasib kaum marginal ini kembali marak diberitakan. Pertama, saat ini banyak daerah yang akan dan sedang melangsungkan pemilihan kepala daerah, dan menjelang pemilihan umum. Seperti biasa, kaum miskin adalah objek dan lahan yang paling subur untuk dijadikan komoditas politik yang akan memberikan marjin politik yang cukup signifikan bagi mendongkrak populariras partai atau individu. Kedua, harga minyak dunia yang terus merangkak naik, menyebabkan pemerintah wajib menaikkan harga BBM dalam negeri untuk melokalisir persoalan ekonomi nasional. Kenaikan BBM itu sudah pasti akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, yang akan membuat orang yang tadinya hidup sederhana akan turun ke peringkat miskin. Orang-orang inilah yang sekarang sedang menjerit di mana-mana. Dan orang yang selama ini hidup dalam kemiskinan justeru tidak lagi menjerit, mereka terdiam (mungkin sedang berusaha mendengar orang miskin baru, yang sedang dalam proses pemiskinan, sedang menjerit).

Kalangan eksekutif dan legislatif kukuh berlomba-lomba membuat statemen di media massa, mengatakan bahwa pemerintah sudah berbuat maksimal untuk merubah nasib kaum miskin. Tapi (kata tapi selalu ada untuk menjustifikasi), hal ini bukan terjadi di sini saja, kondisi ekonomi global memang sedang dalam kondisi payah. Para pengamat dan kritikus sosial, seperti biasa, tidak sepakat dan justeru selalu saja mengatakan bahwa usaha pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan belum menyentuh persoalan mendasar kemiskinan itu. Tapi mereka seperti masih merahasiakan persoalan mendasar itu, dan entah karena tidak tahu apa persoalan mendasar yang dimaksud, atau mungkin karena memang persoalan mendasar itu sudah terlalu banyak, namun pernyataan-pernyataan itu justeru tidak ada dasarnya. Ibarat sebuah pertandingan sepak bola internasional, antara pelatih, penonton dan komentator, saling memberikan pemikirannya saat napas para pemain turun naik dan kehabisan tenaga di ujung lapangan (anggap saja pemain PSSI itu orang miskinnya).

Sejak negara ini berdiri telah terjadi beberapa kali pergantian kepemimpinan nasional. Silih berganti para pemimpin itu telah kehilangan momentum untuk menyejahterakan masyarakat, dan persoalan kemiskinan selalu menjadi beban pemerintah sepanjang waktu. Jika kita misalkan negara ini seorang yang sedang duduk di bangku sekolah, yang sedang menuntut ilmu tentang pengentasan kemiskinan. Melahap ratusan buku, melumat ratusan teori, melakukan ratusan percobaan di laboratorium, mengantongi puluhan ijazah, sertifikat, piagam penghargaan, gelar, dan tentu saja menghabiskan segunung biaya, namun setalah belajar selama 63 tahun, ia berhasil merumuskan berbagai teori tentang pengentasan kemiskinan, tapi gagal menemukan format yang benar tentang cara mengentaskan kemiskinan itu. Itulah sebuah perjalanan panjang yang sia-sia. Nabi Muhammad saw (manusia biasa) mengakhiri keemasan hidupnya pada usia yang sama, 63 tahun. Beliau teguh dan kukuh berpegang kepada ajaran yang dibawanya, namun sangat peka terhadap perubahan situasi dan kondisi masyarakat.

Agaknya pemerintah kita juga perlu melakukan hal yang sama, tetap teguh berpegang kepada undang-undang dasar negara, namun peka terhadap perubahan yang terjadi. Lupakan cara-cara yang ternyata tidak berhasil itu. Sebagaimana saya tulis dalam buku “Menghapus Jejak Kemiskinan, An Unconventional Approach, Kampar Way”, pengentasan kemiskinan bukan dengan memberi bantuan langsung tunai, membuat berbagai program subsidi dan program belas kasihan lainnya. Program itu hanya akan menjadikan orang miskin menjadi malas dan semakin miskin. Semua program itu akan menjadi beban abadi pemerintah yang menyebabkan masyarakat yang dibantu merasa tidak pernah terbantu, padahal pemerintah telah bercucuran keringat. Mungkin cucuran keringat itulah yang dimaksud oleh pihak eksekutif dan legislatif bahwa pemerintah telah berbuat maksimal.

Kembali kepada para pengamat dan kritikus sosial yang selalu mengatakan bahwa program pengentasan kemiskinan di Indonesia belum menyentuh kepada persoalan mendasar kemiskinan. Cobalah untuk berembug nasional untuk merumuskan apa persoalan mendasar yang dimaksud. Cobalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat datang ke daerah kantong-kantong miskin, tinggal bersama mereka barang sehari dua hari saja, agar bisa menyaksikan, merasakan dan menemukan persoalan mendasar itu. Ia tidak cukup dengan hanya melihat mereka dari atas mobil, atau membaca buku tentang kemiskinan, atau menonton televisi, atau membaca laporan kepala daerah, atau mendengar orasi politikus yang sedang syahwat, atau membaca laporan BPS, itu tidak riil.

Mengapa pemerintah mampu membuat hidup para pegawai pemerintah relatif sejahtera. Mengapa itu tidak bisa terjadi pada masyarakat? Padahal, jika pemerintah mau berupaya menjadikan masyarakat miskin menjadi kelompok produktif (dalam bentuk apa saja), menyeimbangkan antara produksi dan konsumsinya, niscaya mereka bisa melepaskan diri dari kemiskinan dan dari penyakit ketergantungan kepada bantuan. Tapi sekali lagi kenapa pemerintah selalu gagal?. Pegawai pemerintah sudah tidak ada lagi yang miskin, karena mereka menerima gaji dan pendapatan yang pasti disepanjang hayatnya. Kalaupun ada PNS yang hidup dalam kemiskinan, itu hanya karena ulah mereka sendiri, sifat konsumtif berlebihan, ingin memiliki segala sesuatu di luar batas kemampuan dan kapasitasnya. Dengan berbagai cara, mengutang, membeli secara kredit untuk berbagai barang, kemudian mengeluh gaji tidak cukup.

Hebatnya, keluhan ini selalu mendapat tanggapan dari pihak pemerintah sendiri dan oleh pihak legislatif, lalu kemudian gaji di naikkan dengan alasan demi meningkatkan produktifitas dan kinerja. Kalau saja gaji itu dinaikkan karena produktifitas dan prestasi kerja yang secara nyata mampu mengurangi angka kemiskinan, maka semua warga masyarakat patut salut kepada mereka. Tapi kalau hanya sekedar meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, sementara masyarakat yang akan dilayani merasa tidak/belum butuh dilayani (karena tidak ada yang mau diurus kecuali urusan perut), apa artinya semua itu. Sudah saatnya tupoksi satuan kerja diproyeksikan pada program pengentasan kemsikinan. Artinya, keberhasilan dalam mengentaskan kemiskinan harus dijadikan unsur utama dalam penilaian keberhasilan dan kinerja satuan kerja pemerintah dan pemerintah daerah.

Banyak orang bisa mengerti mengapa pemerintah harus mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM sebagai satu langkah terbaik namun tidak popular diantara langkah buruk yang dapat ditempuh. Meskipun banyak juga orang (yang tidak paham), terutama masyarakat awam, berteriak bahwa negara kita adalah negara kaya penghasil minyak dunia, sehingga tidak wajar kalau harga BBM dalam negeri dinaikkan. Yang berteriak itu bukan orang miskin, karena bagi kaum miskin mereka lebih menjerit karena kesulitan untuk mendapatkan bahan pokok. Jadi, manfaatkan momentum dan dampak positif dari kenaikan harga minyak dunia untuk mengurangi angka kemiskinan secara permanen.
(Tulisan yang berhubungan dapat dibaca pada buku “Menghapus Jejak Kemiskinan, An Unconventional Approach, Kampar Way” karya: Alfian Malik, ISBN 978-979-792-128-6)

Baca selengkapnya......

28 April 2008

Berharap peningkatan kualitas pembangunan dari SKTK

Pada hari Jum’at, 25 April 2008 yang lalu, saya menyampaikan makalah berjudul “Manajemen Proyek”, dan “Bisnis Kontraktor” pada acara Sertifikasi Keterampilan Tenaga Kerja (SKTK), yang diselenggarakan oleh Badan Sertifikasi Keterampilan Unit Pendidikan dan Pelatihan Jasa Konstruksi Fakultas Teknik Universitas Riau.
Kita semua patut mengapresiasi dengan sunguh-sungguh keinginan berbagai pihak, baik pihak pemerintah, pihak pebisnis jasa konstruksi, maupun masyarakat pelaku pembangunan di negara ini, untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan dan produk pembangunan. Pelaksanaan dan produk pembangunan memang selalu menjadi pembicaraan miring, menjadi stigma yang melekat pada para pelaku pembangunan. Jika persoalan ini tidak segera dibenahi maka cara pandang dan stigma ini akan sulit untuk diluruskan.

Masyarakat memang sangat diharapkan berperan sebagai social control, yang bisa mengawasi jalannya pembangunan. Dan pengawasan itu hendaknya dilakukan secara komprehensif, sejak awal hingga akhir. Pengawasan itu harus dimulai sejak adanya usulan masyarakat berdasarkan kebutuhan (bukan keinginan) untuk sebuah proyek kepada pemerintah, pembahasan di legislatif, hingga akhir pelaksanaan proyek. Dengan demikian, masyarakat yang ingin melakukan pengawasan dapat memahami input, output, outcome dan impact proyek, lalu kemudian memberikan penilaiannya. Jangan mengawasi secara sepenggal-sepenggal, karena bisa menimbulkan konplik. Bagaimanapun juga, sebuah proyek adalah proses dalam sebuah system, yang merlukan waktu, mekanisme, dan sangat banyak melibatkan sumberdaya.

Setiap langkah dalam proses itu sangat rawan terhadap penyimpangan. Penyimpangan-penyimpangan itulah yang harus dikontrol. Tidak jarang penyimpangan itu direncanakan secara sistematis, berulang-ulang dan melibatkan banyak orang dan pihak. Hal-hal semacam itulah yang perlu diawasi oleh masyarakat.. Pada tulisan terdahulu, saya mengungkap sebahagian kejahatan tender/lelang yang umum terjadi di tengah penyelenggaraan tender/lelang proyek pemerintah di Indonesia.
Beberapa orang peserta SKTK meminta diagram proses pelaksanaan pengadaan barang dan jasa, yang sebahagian saya posting di sini.

Kita berharap, semoga dengan penyelenggaraan SKTK ini akan memberikan sumbangan yang besar terhadap peningkatan kualitas penyelenggaraan dan produk pembangunan di Indonesia. (Tulisan yang berhubungan dapat dibaca pada buku “Menghapus Jejak Kemiskinan, An Unconventional Approach, Kampar Way” karya: Alfian Malik, ISBN 978-979-792-128-6)

Baca selengkapnya......

16 April 2008

Spring Cleaning, berbagi sesama...

Beberapa hari yang lalu saya menerima e-mail dari yelloasia. Ada pesan moral yang patut untuk direnungkan. Intinya adalah mengajak kita untuk peduli kepada lingkungan dan orang-orang yang kurang mampu, melalui program “tukar-menukar” atau “berikan secara percuma”. Banyak diantara kita selama ini kurang memperhatikan barang-barang bekas yang menurut kita sudah tidak bermanfaat lagi. Lalu membuang begitu saja. Tanpa kita sadari, sesungguhnya barang-barang itu kemudian dipungut oleh tangan-tangan lain, mengaisnya menjadi sesuap nasi. Atau bila luput, akan dibakar sehingga mencemari lingkungan.

Spring Cleaning? Di belahan dunia lain orang selalu menghubungkan musim semi dengan waktu untuk lahir kembali. Tapi bagi kita di sini, spring cleaning agaknya lebih tepat disebut sebagai acara bersih-bersih rumah. Saat mana banyak diantara kita merasa perlu untuk menyingkirkan beberapa peralatan dan perkakas rumah tangga yang sudah tidak berfungsi dengan baik, atau masih berfungsi tetapi sudah ketinggalan teknologi, sehingga sudah tidak diperlukan lagi. Kemungkinan kita memutuskan untuk menggudangkan, atau membuang barang-barang lama, seperti buku, CD, perkakas rumah tangga, perabotan, barang-barang elektronik, karpet, pakaian dan banyak yang lain.

Tapi sebelum Anda memutuskan untuk melakukan sesuatu tindakan terhadap barang-barang bekas itu, coba pertimbangkan untuk menyimpan kembali. Barang yang menurut Anda sudah layak dikategorikan sampah itu, mungkin bisa menjadi barang berguna bagi orang lain! Ribuan orang mencari barang bekas, barang koleksi, barang sparepart pengganti, dan lain sebagainya. Hanya perlu sedikit usaha melalui Yello, Anda bisa menjual barang-barang bekas kepada yang mencari, atau menukarkan barang-barang dengan orang lain, ataupun memberikan saja secara percuma. Segera iklankan barang-barang itu di Yello, begitu mudah!

Kini di Yello ada kategori baru - RECYCLE, dimana Anda dapat Tukar-menukar atau Berikan Cuma-cuma , menjadi begitu mudah. Oleh sebab itu, jangan buang barang bekas Anda, karena ternyata bisa dijual, ditukar atau diberikan kepada orang lain melalui Iklankan di Yello.

Baca selengkapnya......
Alfian Malik's Facebook profile